Pendidikan

SMPN 1 Kiarapedes: Menggapai Asa dari Perbatasan

Tujuhsatu.com – Pagi itu sekitar jam 05.30 WIB, Seorang anak berjalan kaki menyusuri jalan dari rumahnya di bawah kaki Gunung Leutik Subang menuju sekolahnya. Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki dari rumah menuju tempat penjemputan Bus Sekolah yang berjarak 3 km dari rumahnya dengan melewati jalan bebatuan, kebun kelapa sawit dan jalan desa beraspal.

Dia tidak sendiri karena ditemani lima orang temannya yang berasal dari desa yang sama dengannya. Setelah itu bersama dua puluh orang temannya dari beberapa desa, mereka berangkat menuju sekolah yang berjarak 6 km dari titik penjemputan Bus.

Siswi tersebut bernama Dini, kelas 8 SMPN 1 Kiarapedes yang tinggal di Desa Ponggang Kabupaten Subang namun bersekolah di SMPN 1 Kiarapedes Kabupaten Purwakarta yang merupakan satu-satunya sekolah terdekat dari wilayah rumahnya. Dini memilih berjalan kaki karena tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani dan harus berangkat pagi-pagi juga menuju area persawahan di sekitar rumahnya.

Baca Juga :  Jaga Stamina Prima, Wakapolres Langkat Ajak Lari Pagi Anggota Dalmas Sat Samapta.

Dini adalah satu dari banyaknya siswa SMPN 1 Kiarapedes yang tinggal di daerah perbatasan maupun di pinggiran kecamatan. Jarak yang jauh tidak menjadikan hambatan untuk mereka menimba ilmu bahkan justru bisa menghasilkan prestasi. Dini merupakan atlet atletik peraih juara ke-2 O2SN tingkat Kabupaten Purwakarta Tahun 2023. Terbiasa jalan kaki jauh dan juga sering ikut orang tuanya berburu di hutan saat libur membuat kakinya menjadi kuat.

Keberadaan Bus Sekolah dari Dinas Pendidikan untuk SMPN 1 Kiarapedes sejak Maret 2022 sebagai alat transportasi siswa sangat membantu memudahkan siswa saat berangkat maupun pulang. Begitupula dengan adanya bus dan mobil bak terbuka milik warga yang mau membantu pihak sekolah sebagai sarana transportasi. Ketiga sarana transportasi ini sangat membantu siswa. Siswa hanya membayar lima ribu rupiah untuk ongkos pulang pergi ke sekolah. Terkait ongkos transportasi sudah mendapat persetujuan dari orang tua murid.

Baca Juga :  Universitas Katolik (Unika) St Thomas Medan merayakan perayaan dies natalis ke-40

Menurut Kepala SMPN 1 Kiarapedes, Sugeng Widodo, S.Pd., M.M.Pd dengan adanya fasilitas Bus Sekolah dari Dinas Pendidikan sebagai jemputan sangat membantu siswa. Kalau tidak ada jemputan, siswa akan jalan kaki maupun diantar orang tua. Kendala transportasi pun teratasi dengan kehadiran bus sekolah.

Begitupun dengan perjuangan siswa yang mau berangkat pagi dan berjalan kaki terlebih dahulu justru menjadi motivasi bagi pihak SMPN 1 Kiarapedes untuk memberikan pelayanan terbaik bagi siswanya apalagi yang berprestasi justru berasal dari mereka yang tinggal di pinggiran dan berasal dari latar belakang ekonomi menengah kebawah.

Baca Juga :  Gebyar Nuzulul Qur-an Pelajar Purwakarta, Langitkan Doa Bumikan Al-Qur-an

“Jika tidak memiliki handphone dan hilang kontak, sekolah dalam hal ini wali kelas rutin mengunjungi siswa tersebut ke rumahnya. Jika tidak mengumpulkan Beas Kaheman karena keterbatasan ekonomi, justru mereka difasilitasi dengan menyediakan sarapan bagi mereka ataupun diberikan berasnya. Jika tidak mempunyai ongkos untuk biaya transportasi, mereka diberikan fasilitas dengan tidak perlu membayar. Tugas sekolah mendorong dan membantu untuk kelancaran siswa ketika sekolah” ungkap Sugeng.

Semangat siswa yang tinggal di perbatasan tentunya bisa menjadi motivasi bagi teman-teman seusianya. Dengan keterbatasan dan jarak yang jauh namun tidak menjadi halangan untuk menimba ilmu bahkan bisa berprestasi. Sekolah sebagai rumah mereka menimba ilmu membantu menyediakan fasilitas untuk memudahkan mereka dan agar mereka tidak memiliki kendala saat menimba ilmu. (MH/Red.)

Artikel Terkait

Back to top button
Don`t copy text!