DaerahNasionalPeristiwa

Ada Apa dengan SPPG Purwamekar? Nasi Basi Disajikan, Oknum Satpol PP Diduga Minta Jatah Minyak

Klik Untuk Mendengarkan Berita

PURWAKARTA ,Tujuhsatu.com — Operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah naungan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwamekar, Purwakarta, mendadak bergolak hebat.

Rangkaian masalah sistematis—mulai dari krisis keselamatan pangan, dugaan praktik pungli, hingga kekacauan manajemen internal—kini membongkar bobroknya tata kelola fasilitas tersebut.

Krisis memuncak saat menu nasi kuning yang didistribusikan ke TK Qurrota A’yun ditemukan dalam kondisi yang tidak layak.

Salah satu orang tua siswa, Bang Zem, mengatakan bahwa anaknya menerima paket MBG dalam nasi yang sudah berbau dan diduga dalam keadaan basi.

“Anak saya tadi pagi pulang sekolah cerita kalau nasi kuning MBG nya basi, jadi gak dimakan,” ujarnya, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga :  Kedatangan Resorts World Cruises MV. Star Voyager di Pelabuhan Kuala Tanjung, Dorong Peningkatan Ekonomi dan UMKM

Ia juga mengungkapkan bahwa pihak guru hanya memberikan buah serta kacang yang ada dalam menu paket MBG hari ini.

Ironisnya, insiden fatal ini diduga sempat ditutupi dan tidak dilaporkan ke pengelola dapur MBG.

Pria yang juga Ketua Rayon FKPPI Babakancikao ini juga langsung menghubungi kerabatnya yang bekerja sebagai relawan di SPPG Purwamekar Purwakarta.

Namun, kerabat Bang Zem tersebut tidak mengetahui terkait nasi kuning basi dalam paket MBG yang diberikan ke TK Qurrota A’yun.

“Saya langsung hubungi teman saya, tapi teman saya mengaku tidak tahu,” ungkapnya.

Satu per satu kebobrokan manajemen pun mulai terkuak.

Situasi kian memanas setelah Koordinator Pemorsian, Ines, secara mendadak menyatakan mengundurkan diri, menyusul gelombang keluarnya sejumlah relawan yang selama ini tak pernah dilaporkan kepada pemilik (owner).

Baca Juga :  Tim relawan PAGAR Prabowo Gibran deklarasi Tampa spanduk akibat kelalaian percetakan Grand Grafika

“Berdasarkan informasi dari teman saya, koordinator pemorsian dapur (SPPG) Purwamekar langsung mengundurkan diri,” katanya.

Tak berhenti di situ, SPPG Purwamekar juga diterpa isu tak sedap terkait pengelolaan limbah minyak goreng.

Muncul dugaan kuat adanya oknum Satpol PP yang kerap mendatangi lokasi untuk meminta “jatah” minyak secara tidak resmi.

“Katanya juga sempat ada oknum Satpol PP yang datang ke kantor minta minyak bekas. Katanya sih buat pupuk. Tapi kan pupuk apa pake minyak goreng bekas?” jelas Bang Zem.

Di tingkat internal, gesekan antarpersonel berada di titik nadir. Diduga terjadi perselisihan tajam antara relawan (Aslap) dengan Kepala SPPG Purwamekar.

Baca Juga :  Lebaran Aman di Langkat: Kapolres Ucapkan Terima Kasih untuk Warga & Pahlawan Lalu Lintas

“Udah gitu, infonya Kepala dengan relawan gak akur,” tambahnya.

Ketegangan ini makin diperparah oleh dominasi oknum ahli gizi yang dinilai ‘overacting’ dan melampaui kewenangan dalam mengatur seluruh urusan operasional dapur.

“Ahli gizi serasa ‘Owner’, katanya sih suka ngatur-ngatur yang bukan tupoksinya,” ungkap Bang Zem.

Rangkaian polemik ini menjadi sinyal merah bagi manajemen puncak dan pemilik untuk segera turun tangan melakukan perombakan total, demi menjamin keselamatan pangan anak-anak serta memulihkan transparansi di SPPG Purwamekar.

“Harusnya mitra segera turun tangan untuk segera mengevaluasi, agar gejolak di dapur MBG Purwamekar kondusif. Toh nanti akhirnya nanti kan bakal berdampak pada kualitas makanan yang dibagikan,” pungkas Bang Zem.

Artikel Terkait

Back to top button
Don`t copy text!