DaerahHukum & KriminalNasionalPeristiwa

TKN Kompas Ancam Aksi Besar : Kafe Ilegal Berdiri, Pedagang Eks Aksara Terinjak

Klik Untuk Mendengarkan Berita

Medan, Tujuhsatu.com : Aroma ketidakadilan dan dugaan pelanggaran hukum mencuat dari lahan bekas Aksara Plaza, Medan. Ketua Umum TKN Kompas Nusantara, Adi Warman Lubis, dengan nada tegas menyuarakan kemarahan terhadap Pemko Medan yang dinilai membiarkan berdirinya sebuah kafe mewah tanpa izin jelas—di atas tanah milik rakyat.

> “Dari awal tak pernah ada plang izin PBG dan AMDAL. Ini proyek siluman! Di mana fungsi pengawasan? Jangan-jangan ini dibiarkan sengaja!” kecam Adi, Sabtu (7/6/2025).

Adi menegaskan bahwa pembangunan tersebut sarat kepentingan elite dan mengkhianati rakyat kecil, khususnya para pedagang korban kebakaran Aksara Plaza 2016 yang kini justru terusir dari tanah yang dulunya menjadi sumber nafkah mereka.

Baca Juga :  Wakapolres Langkat Pimpin Apel Pengamanan Malam Takbiran 1445 H / 2024 M

Ultimatum untuk Pemko dan DPRD

Tak hanya mengecam, Adi juga melontarkan ultimatum keras. Ia menuntut Pemko Medan segera membongkar kafe ilegal itu dan meminta DPRD Kota Medan menggelar RDP (Rapat Dengar Pendapat) khusus untuk mengusut seluruh pihak terkait, termasuk mantan dan pejabat aktif PUD Pasar serta oknum di balik proyek tersebut.

> “Kalau pemerintah tetap bungkam, kami akan turun bersama 750 lebih pedagang eks Aksara! Ini bukan ancaman, ini perlawanan terhadap ketidakadilan!” tegasnya.

Baca Juga :  Kapolsek Huamual mediasi konflik olas katapang di kantor Desa loki belum berujung damai

Adi juga menyoroti bahwa kontrak kerja sama antara Pemko dan PT Aksara Jaya Indah sudah kedaluwarsa sejak 2016, namun pengelolaan tetap berjalan tanpa kontribusi pada PAD (Pendapatan Asli Daerah).

> “Ini bukan sekadar pelanggaran administrasi. Ini pembiaran terstruktur, sistematis, dan masif!” seru Adi.

Pasar Mati, Pedagang Menderita

Sejak kebakaran tragis pada 12 Juli 2016, ribuan pedagang kehilangan tempat berjualan. Pasar pengganti yang dibangun dengan dana APBN kini sepi, bahkan nyaris kosong.

Pimpin Lubis, pedagang yang telah 36 tahun berjualan di Aksara, menyebut pasar pengganti ibarat “bangunan mati”.

Baca Juga :  Rahudman Harahap Hadir Bersama Warga Sergai Menuju Perubahan Maju di Pileg 2024

> “Kami cuma ingin kembali berdagang. Kami bukan pengemis. Kami korban! Jangan dirampas hak kami,” ujarnya geram.

Aksara Plaza: Luka yang Belum Sembuh

Kebakaran Aksara Plaza tak hanya meluluhlantakkan gedung, tapi juga menghancurkan harapan ribuan keluarga. Api besar melahap bangunan sekitar pukul 11.30 WIB, dan hingga kini, Pemko Medan belum pernah secara serius mengevaluasi pengelolaan lahan tersebut.

“Dulu pasar itu denyut ekonomi rakyat. Kini diganti jadi tempat nongkrong elite. Di mana hati nurani Pemko?” ucap Pimpin, mengenang masa pahit itu.

(Ahmad)

Artikel Terkait

Back to top button
Don`t copy text!