DaerahNasionalOlah RagaPeristiwa

Tangis Haru dan Kebanggaan di Penang: Judoka Muda Cikarang Taklukan Dunia Meski Berjuang dalam Keterbatasan

Klik Untuk Mendengarkan Berita

PENANG,Tujuhsatu.com– Gemuruh tepuk tangan membahana di dalam Sunshine Central, Penang, Malaysia, saat satu per satu atlet muda Indonesia menaiki podium Penang Invitational Judo Championship 2026. Di balik sorot lampu panggung dan kilauan medali yang melingkar di leher mereka, tersimpan sebuah kisah perjuangan yang menguras air mata dan keringat.

Tiga remaja asal Cikarang, Kabupaten Bekasi, baru saja menuntaskan misi mustahil: menaklukkan 820 peserta dari 36 klub internasional dengan modal semangat mandiri.
Turnamen yang berlangsung pada 17-19 April 2026 ini dikenal sebagai “neraka” bagi pejudo pemula. Dengan kehadiran kontingen dari 8 negara, persaingan di atas matras terasa begitu menyesakkan. Namun, mentalitas baja ditunjukkan oleh *Muhammad Raziq Athari*. Siswa SMPN 1 Cikarang Selatan ini tampil bak raksasa di kelas -66kg Putra. Setiap bantingannya tidak hanya mengandalkan otot, tetapi juga kecerdasan taktik yang matang. Raziq berhasil menembus barisan pertahanan atlet-atlet unggulan mancanegara hingga mencapai babak final. Meski harus puas dengan *Medali Perak (Juara 2)*, Raziq telah mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa judoka Bekasi adalah ancaman serius.

Baca Juga :  Rutan kelas 1 Medan melakukan pembinaan keagamaan dengan warga binaan oleh kemenag Medan

Pemandangan mengharukan juga terlihat di kelas -32kg Putri. *Ibnaty Lubna Rahmillah*, siswi mungil dari Al Hidayah Islamic School (AHIS) Lippo Cikarang, menunjukkan bahwa nyali tidak ditentukan oleh postur tubuh. Di tengah kepungan atlet-atlet luar negeri yang memiliki fasilitas latihan lebih mewah, Lubna bertarung habis-habisan. Teknik kuncian dan kegigihannya membawanya meraih *Medali Perunggu (Juara 3)*. Keberhasilan ini disambut isak tangis bangga dari keluarga yang mendampingi di pinggir matras.

Baca Juga :  Codet dan Aan Gelar Perjudian Laga Ayam di Kota Binjai, Polisi Diduga Tutup Mata

Sementara itu, *Nabila Talita Sakhi* dari SMPIT Al Imaroh menunjukkan sportivitas luar biasa di kelas -40kg Putri. Walaupun harus terhenti di *Peringkat 5*, performa Nabila tetap menjadi catatan emas. Ia menghadapi lawan dengan jam terbang internasional yang jauh di atasnya, namun ia tak sedikit pun menunjukkan rasa gentar hingga detik terakhir pertandingan.

Namun, di balik selebrasi kemenangan ini, terselip fakta pahit yang menyayat hati. Prestasi kelas dunia ini lahir tanpa sepeser pun dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi maupun KONI setempat. Ironisnya, para atlet yang mengharumkan nama bangsa ini harus berangkat menggunakan dana pribadi. Orang tua atlet harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membiayai tiket pesawat, pendaftaran, hingga biaya hidup selama di Penang.

Baca Juga :  Mahasiswa KKN UINSU Antar Surat Izin dan Survey Lokasi, Disambut Hangat Kepala Desa Suka Maju

“Semua ini murni swadaya. Kami bangga, tapi juga sedih melihat anak-anak berjuang sendirian membawa nama daerah tanpa ada perhatian dari instansi terkait,” ungkap salah satu perwakilan orang tua.
Keberhasilan Raziq, Lubna, dan Nabila adalah bukti nyata bahwa potensi emas ada di tangan anak-anak Cikarang.

Mereka telah membuktikan bahwa keterbatasan dana dan nihilnya dukungan pemerintah bukan alasan untuk berhenti berprestasi.

Kini, mereka pulang membawa medali, meninggalkan sebuah tanya besar bagi para pemangku kebijakan: sampai kapan pahlawan olahraga ini harus berjuang sendirian di medan laga? [bisot]

Artikel Terkait

Back to top button
Don`t copy text!