DaerahKhazanahNasionalPeristiwa

Sejarah Islam 10 Muharram Asyura dan Refleksinya

Klik Untuk Mendengarkan Berita

Artikel di tulis : Santi Nurmayanti

Pojok Sejarah,Special Redaksi tujuhsatu.com

📜 Sejarah 10 Muharram: Hari Asyura

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah, dan merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan dalam Islam. Hari kesepuluh bulan Muharram disebut Hari Asyura, yang memiliki makna dan sejarah panjang sebelum dan sesudah datangnya Nabi Muhammad ﷺ.

✅ Sebelum Islam

Sejak zaman Nabi-nabi terdahulu, tanggal 10 Muharram sudah dianggap sebagai hari yang istimewa. Berbagai peristiwa besar dan penyelamatan yang dilakukan Allah SWT terjadi pada hari ini:

– Nabi Musa a.s. dan kaumnya diselamatkan dari kejaran Firaun dan bala tentaranya saat melewati Laut Merah. Air terbelah menjadi jalan, sedangkan Firaun dan pasukannya tenggelam.
– Nabi Nuh a.s. beserta pengikutnya turun dari kapal bahtera setelah air banjir surut, menandai berakhirnya ujian dan dimulainya kehidupan baru.
– Nabi Ibrahim a.s. diselamatkan dari api yang dinyalakan oleh Raja Namrud.
– Nabi Yusuf a.s. dipertemukan kembali dengan ayahnya, Nabi Ya’qub a.s., setelah berpisah dalam waktu yang sangat lama.
– Nabi Yunus a.s. dikeluarkan dari perut ikan paus setelah memohon ampun kepada Allah SWT.

Baca Juga :  prof Ridha bersama kaum ibu dan majelis muslimah zikir dengan memaknai arti sabar

Karena peristiwa-peristiwa mulia ini, kaum Quraisy di Mekah pun sudah memiliki kebiasaan berpuasa pada hari Asyura sebelum Islam datang.

✅ Setelah Kedatangan Islam

Ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Beliau bertanya alasannya, dan mereka menjawab: “Ini adalah hari yang mulia, pada hari ini Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya, serta menenggelamkan Firaun dan pengikutnya. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari ini sebagai rasa syukur kepada Allah.”

Mendengar penjelasan itu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Kami lebih berhak kepada Musa daripada mereka.”
Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari Asyura. (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah kewajiban berpuasa di bulan Ramadan ditetapkan, hukum berpuasa Asyura berubah menjadi puasa sunah yang sangat dianjurkan. Nabi ﷺ bersabda bahwa puasa pada hari ini dapat menghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.

✅ Peristiwa Penting Lainnya

Dalam sejarah Islam, tanggal 10 Muharram juga tercatat sebagai hari terjadinya Peristiwa Tragedi Karbala pada tahun 61 Hijriah. Pada hari ini, Husein bin Ali bin Abi Thalib — cucu kesayangan Rasulullah ﷺ beserta keluarga dan pengikutnya yang sedikit — gugur sebagai syahid dalam perjuangan menegakkan kebenaran dan menentang penyimpangan kekuasaan saat itu. Peristiwa ini menjadi pengingat kekal akan keberanian, keteguhan prinsip, dan pengorbanan untuk keadilan.

Baca Juga :  Pledoi Doris dan Riris: Kuasa Hukum Ajukan Pembebasan, Ungkap Kejanggalan dalam Kasus Penganiayaan

🤲 Refleksi Makna Hari Asyura

Di balik rangkaian sejarah yang panjang, Hari Asyura mengandung banyak pelajaran berharga untuk direnungkan dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Wujud Rasa Syukur yang Mendalam

Berbagai peristiwa penyelamatan mengajarkan kita bahwa pertolongan Allah SWT pasti datang bagi hamba-Nya yang sabar dan beriman. Berpuasa dan beribadah pada hari ini adalah bentuk terima kasih atas nikmat keselamatan, kesehatan, dan kesempatan hidup yang terus diberikan.

2. Meneladani Sifat Kesabaran dan Ketabahan

Perjalanan Nabi Musa, Nabi Nuh, hingga pengorbanan Husein bin Ali mengajarkan bahwa jalan menuju kebenaran tidak selalu mudah. Ada ujian, rintangan, bahkan pengorbanan yang harus dihadapi. Hari Asyura mengingatkan kita untuk tetap teguh memegang prinsip meskipun berada dalam posisi yang lemah atau tertekan.

3. Memperbaiki Diri dan Menghapus Kesalahan

Baca Juga :  Diduga Ladang Korupsi, Proyek Rehabilitasi TPI Percut Sei Tuan Senilai 2,5 Miliar Bermasalah, Kontrak dan Adendum Dilanggar

Anjuran berpuasa pada hari ini dengan pahala penghapusan dosa menjadi kesempatan emas untuk membersihkan hati dan jiwa. Ini adalah momen yang tepat untuk bertaubat, memperbaiki hubungan dengan Allah, serta memperbaiki sikap dan perilaku terhadap sesama manusia.

4. Mengutamakan Keadilan dan Kebenaran

Peristiwa Karbala mengajarkan kita untuk tidak diam melihat ketidakadilan. Meskipun harus menghadapi risiko, membela kebenaran adalah kewajiban. Semangat Husein bin Ali mengingatkan agar kita tidak tergoyahkan oleh harta, jabatan, atau tekanan kekuasaan.

5. Mempererat Ukhuwah dan Kepedulian Sosial

Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk memperbanyak kebaikan, memberi makan orang lain, dan menyantuni keluarga pada hari Asyura. Hal ini melatih kita memiliki rasa empati, berbagi rezeki, serta memperkuat tali persaudaraan antarumat Islam.

📝 Penutup

Hari Asyura bukan sekadar tanggal dalam kalender, melainkan cerminan perjalanan iman manusia. Ia mengingatkan kita akan kuasa Allah yang menyelamatkan, serta semangat hamba-Nya yang tetap teguh pada kebenaran. Semoga dengan mengenang sejarah dan mengambil pelajarannya, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bersyukur, dan senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dalam setiap langkah kehidupan.

Penulis : Santi Nurmayanti

Artikel Terkait

Back to top button
Don`t copy text!